TPS 3R Srawung Makmur Trucuk Diresmikan, Pengelolaan Sampah Didorong Jadi Peluang Ekonomi Warga

BOJONEGORO, Faktabojonegoro.com – Pemerintah Desa Trucuk, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Bojonegoro, meresmikan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) Srawung Makmur di RT 014/RW 002, Kamis (24/9/2026).

Keberadaan fasilitas tersebut diharapkan tidak hanya membantu pengelolaan sampah di tingkat desa, tetapi juga dapat berkembang menjadi kegiatan produktif yang memberikan manfaat bagi lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

TPS 3R Srawung Makmur merupakan bagian dari Program Pengelolaan Sampah Terpadu melalui Gerakan Sapu Bersih (Gerbang Sapu Bersih). Program tersebut dikembangkan melalui kolaborasi Pemerintah Desa Trucuk, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), dan Alas Institute.

Kepala Desa Trucuk, Sunoko, mengapresiasi dukungan berbagai pihak yang telah mendampingi pengembangan program pengelolaan sampah tersebut.

Menurutnya, keberadaan TPS 3R perlu diikuti dengan aktivitas yang berkelanjutan sehingga fasilitas yang telah dibangun benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Harapan kami bangunan ini tidak hanya berdiri, tetapi juga bisa berjalan manfaatnya dan berkembang kegiatannya untuk kemakmuran masyarakat desa,” ujar Sunoko.

Pemerintah Desa Trucuk juga berencana memperluas kerja sama dengan desa-desa di sekitar wilayah tersebut. Sampah yang terkumpul akan dipilah dan diolah sehingga sebagian memiliki nilai guna maupun nilai ekonomi.

Salah satu rencana yang disiapkan adalah pengembangan budidaya maggot dengan memanfaatkan sampah organik. Hasil pengelolaan tersebut nantinya berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan pakan, termasuk untuk ayam dan ikan lele.

Perwakilan ExxonMobil Cepu Limited, Tezhart Elvandiar, External Engagement and Socioeconomic Manager, mengatakan keberhasilan pengelolaan sampah tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan fasilitas.

Menurutnya, perubahan kebiasaan masyarakat, terutama dalam mengurangi dan memilah sampah sejak dari rumah, menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan program.

Program yang telah berjalan sekitar 10 bulan tersebut disebut telah menjangkau lebih dari 1.200 rumah tangga. Sekitar 350 orang tercatat menjadi anggota bank sampah, sementara 95 relawan dan kader lingkungan ikut terlibat.

Selain itu, kelompok arisan sampah telah melibatkan lebih dari 320 perempuan. Selama program berjalan, tercatat lebih dari 130 ton sampah berhasil dikumpulkan.

“Yang dilihat hari ini adalah raganya, tapi kita juga bangun jiwanya,” ujar Tezhart.

Ia menekankan bahwa pembangunan sarana pengelolaan sampah perlu berjalan bersama dengan peningkatan kesadaran masyarakat. Infrastruktur yang tersedia, menurutnya, akan lebih bermanfaat apabila diikuti perubahan perilaku dalam mengelola sampah.

Sementara itu, Bupati Bojonegoro H. Setyo Wahono menyoroti pentingnya perubahan kebiasaan masyarakat dalam menghadapi persoalan sampah.

“Masalah sampah itu masalah kebiasaan, masalah budaya, masalah perilaku,” kata Setyo Wahono.

Ia meminta fasilitas TPS 3R yang telah dibangun dapat dirawat dan dimanfaatkan secara berkelanjutan. Keberhasilan program tidak hanya diukur dari pembangunan fasilitas, tetapi juga dari keberlangsungan kegiatan pengelolaan sampah setelah program pendampingan selesai.

Bupati juga mendorong penerapan prinsip 3R, yakni mengurangi penggunaan barang yang menghasilkan sampah, menggunakan kembali barang yang masih layak, serta mendaur ulang sampah menjadi produk yang memiliki manfaat.

Melalui pengelolaan berbasis masyarakat, TPS 3R Srawung Makmur diharapkan dapat menjadi salah satu contoh pengelolaan sampah di tingkat desa yang tidak hanya berorientasi pada lingkungan, tetapi juga mampu memberikan manfaat sosial dan ekonomi.

Peresmian tersebut turut dihadiri unsur Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, EMCL, Alas Institute, Forkopimcam Trucuk dan Sukosewu, Pemerintah Desa Trucuk, pengelola TPS 3R, pengurus bank sampah, komunitas lingkungan, serta tokoh masyarakat.

(Red.)

Tag: